Wednesday, October 29, 2008

electrify me

Kamu listrik, kamu elektrik. Kamu menyengat dan saya sekarat. Tapi melepasmu sekarang akan menjadi terlalu berat saat kamu telah jadi keseluruhan bagian dari segala aspek yang bisa menghidupkan saya.

Setrum saya lagi sayang!

Saya sakit, saya ringkih. Tapi segala sakit dari teganganmu yang terlalu tinggi hanya segelintir kecil efek samping. Ketahuilah kamu adiktif. Kamu, dan perih dari perasaan yang hadir setiap kamu menghampiri, membuat saya terus menagih.

Tapi panas dan segala ketidakpastian yang kamu beri sudah terlalu, dan sakit hati saya mulai mengganggu.

Kini saya hanya bisa memejamkan mata, menyilangkan tiap jari dari kedua tangan saya, memohon pada doa yang bertele-tele dan panjang, berharap Tuhan belum muak. Lalu membuka tangan saya perlahan, berharap ada cahaya yang bersedia menelusup disana. Sayang yang ada hanya sisa pilu dari milisekon terakhir genggaman erat tangan kita yang tahu bahwa cinta selamanya tidak akan pernah hadir disana.

Ayo sengat saya lagi lagi lagi lagi, dan kalaupun saya harus mati begini dalam segala sakit hati dan perih saya tidak akan keberatan. Mati dalam suatu kenikmatan. Tapi hangatmu mulai redup sayang, dan cahaya menyilaukan itu seakan hanya bisa pudar. Mungkin mata saya terlalu sembab menangisi adiksi saya yang keterlaluan.

Mana kamu mana silaumu?

No comments: